Pemberian pakan
By: Date: July 3, 2020 Categories: Buddiaya

Pemberian pakan

Lobster adalah jenis hewan omnivora atau hewan pemakan segala.
Sebaiknya, makanan untuk lobster diberikan dalam kondisi mentah, baik itu
sayuran maupun daging. Lobster makan didasar kolam, sehingga makanan harus
ditenggelamkan ke dasar kolam. Pakan lain yang cuckup baik di beri untuk
lobster adalah daging, cacing sutera dan blood worm. Namun, jika cacing sutera
atau cacing tanah diberikan harus ada perlakuan khusus.Ketika baru diambil dari
sungai atu baru dibeli dari pedagang harus diendapkan terlebih dahulu selama
satu hari. Tujuannya agar cacing membuang kotoran didalam perutnya sehingga
yang tersisa hanya dagingnya. Para pembudidaya pemula disarankan
menggunakan cacing beku untuk pakan lobster-lobsternya.
Dalam sehari, pakan yang diberikan sebanyak 3% dari berat badan lobster.
Pakan tersebut diberikan dua kali sehari, yakni pagi hari pukul 07.00 – 10.00
pakan sebnayak 25% dan sore hari pada pukul 17.00 sebanyak 75%. Persentase
pemberian makan malam lebih banyak karena lobster termasuk hewan
nokturnal yang aktif pada malam hari.
Cara lain untuk mengetahui jumlah pakan yang akan diberikan adalah dengan menetapkan target pertumbuhan yang diinginkan secara periodikal, kemudian menghitung kebutuhan pakan yang menunjang pertumbuhan tersebut. Cara ini sangat bermanfaat untuk mengetahui secara logis antara
pertumbuhan dengan pakan yang dapat dijadikan pola yang lebih terukur.

Pertumbuhan Benih

Pertumbuhan erat kaitannya dengan konsumsi pakan, lingkungan tumbuhan dan faktor genetis. Pemberian pakan memegang peranan yang paling
tinggi. Dengan pemberian pakan yang sesuai, pertumbuhan lobster bisa diprediksi. Semakin besar atau bertambahnya umur lobster, tingkat
pertumbuhannya akan semakin menurun (persentase pertumbuhannya semakin kecil).21
5. Pencegahan Hama dan Penyakit
Meskipun lobster air tawar termasuk tahan terhadap serangan hama dan
penyakit karena kulitnya yang keras dan tebal, tetapi kewaspadaan tetap saja
diperlukan. Beberapa penyakit yang sering menyerang lobster dan
menyebabkan kematian adalah sebagai berikut :
1) Saprolegnia dan Achyla
Kedua pathogen ini menyerang jaringan luar lobster dan menyerang
telurnya. Mereka dapat menghambat pernapasan lobster sehingga telur
akan mati dan tidak menetas. Tanda lobster terserang penyakit ini adalah
pada tubuhnya ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas.
Cendawan ini menyebabkan nafsu makan lobster menurun dan akhirnya
mati. Cara mengatasi Saprolegnia sp adalah dengan merendam lobster yang
terinfeksi ke dalam Malachite Green 2-3 ppm selama 30-60 menit.
2) Cacing jangkar
Cacing Lernea cyprinacea dan Lernaea carasii menembus jaringan tubuh
dengan kaitnya yang menyerupai jangkar. Bagian insang pada lobster yang
terjangkit tampak dihuni cacing dan terdapat cairan atau lender yang
memanjang. Akibatnya, lobster kekurangan darah kehilangan bobot tubuh,
dan kemudian mati. Cacing jangkar dapat diatasi dengan merendam lobster
yang terinfeksi kedalam larutan garam (20 gram garam dilarutkan ke dalam
1 liter air) selama 10-20 menit.
3) Argulus foliaceus
Serangan argulus pada lobster ditandai dengan adanya bintik merah
pada tubuh. Racun argulus ini menyebabkan kematian pada lobster akibat
anemia dan kehilangan banyak darah. Racun yang melukai kulit bisa
mengundang infeksi saprolegnia yang semakin menambah penderitaan
lobster. Penyakit ini bisa diatasi dengan merendam lobster kedalam 1
mililiter Lysol yang dilarutkan dalam 5 liter air selama 15-60 detik. Setelah
itu, rendam lobster ke dalam sodium permanganate sebanyak 1 gram yang
dilarutkan dalam 100 liter air selama 1,5 jam. Pemberiaan Neguvon,
Masoten, dan Lindane dilakukan jika serangan telah mencapai stadium
puncak karena ketiganya bersifat racun yang justru bisa membahayakan
lobster.
4) Larva cybister (ucrit)
Larva cybister (ucrit) adalah hewan yang bentukya seperti ulat,
tubuhnya berwarna agak kehijauan, dan panjangnya dapat mencapai 2 cm.
hewan ini memiliki gigi taring yang terletak di kepala sebagai alat untuk
menggigit mangsanya. Sementara di bagian tubuh belakang, ucrit memilik 22
alat penyengat. Meskipun demikian tubuhnya kaku, tetapi gerakannya
terbilang cepat. Dilihat dari jenis darahnya, larva cybister termasuk hewan
berdarah putih.
5) Linsang
Linsang atau sero adalah hewan berkaki empat, berbulu, dan berekor
panjang. Tubuhnya mirip kucung, tetapi ukurannya lebih panjang. Bila
terkena sinar, matanya mengeluarkan cahaya berwarna biru. Hewan ini
banyak ditemukan di daerah kaki gunung atau daerah berbukit. Tempat
persembunyian sero sangat susah ditemukan.
Sejauh ini, pemberantasan sero masih sulit dilakukan karena sangat
susah ditangkap. Selain itu, penciumannya juga sangat tajam, meskipun
dipancing dengan ikan dan lobster yang sudah diberi racun. Hanya
pencegahan yang baru bisa dilakukan dengan yang dibuat mendadak.
Pencegahan lainnya dengan memagar areal kandang, tetapi cara ini
membutuhkan biaya yang sangat besar.