Nilai Dasar Kepemilikan dan Kedudukan Harta Dalam Islam
By: Date: July 3, 2020 Categories: Kesehatan

Nilai Dasar Kepemilikan dan Kedudukan Harta Dalam Islam

Dalam agama Islam, pemilik mutlak dari alam semesta ini adalah Tuhan Yang Maha Esa. Allah menciptakan alam semesta ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Setiap manusia memiliki hak untuk memanfaatkan apa yang telah disediakan oleh Tuhan. Manusia hanya mendapat mandat untuk memanfaatkan dan mengembangkannya untuk kepentingan kemaslahan manusia (li hifdz al maslahat al ibad).[21] Namun, hal tersebut harus dilakukan dengan baik karena kan dipertanggungn jawabkan di akhirat kelak. Dalam ajaran Islam, hak miliki dikategorikan menjadi tiga, yaitu:[22]

  1. Hak miliki individual (milkiyah fardhiah/ private ownership)
  2. Hak miliki umum atau publik (milkiyah ‘ammah/ public ownership)
  3. Hak miliki negara (milkiyah daulah/ state ownership)

Setiap individu diperbolehkan untuk memiliki dan mengelola umber daya yang ada selagi sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Tidak lupa pula juga harus menjaganya agar tidak menimbulkan kerusakan yang mengandung mudharat lebih besar dibanding dengan manfaatnya.

Sementara dalam kepemilikan umum barangnya harus dapat dimanfaatakan oleh seluruh masyarakata yang aad di komunitas tersebut. Hak milik umum terdapat pada benda dengan karakterisktik berikut:

  1. Merupakan fasilitas umum, dimana kalau benda ini tidak ada di dalam suatu negeri atau komunitas, maka akan menyebabkan suatu sengketa dalam mencarinya, seperti jalan raya,  air minum, dan sebagainya.
  2. Bahan tambang yang relatif tidak terbatas jumlahnya.
  3. Sumber daya alam yang sifat pembentukannya yang menghalangi untuk dimiliki hanya oleh orang secara individual.
  4. Harta benda waqaf, yaitu harta seseorang yang dihibahkan untuk kepentingan umum.[23]

Membahas tentang kepemilikan pastinya tidak akan lepas dari yang namanya harta. Seorang muslim hendaknya memndang harta dalam perspektif yang luas dan luhur seperti halnya Islam memndang harta sebagai amanat yang dapat dijasikan media oleh manusia untuk mencapai falah semaksimal mungkin (Siddiiqi, 1985 dan Naqvi, 1981).[24] Atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan maka kita diharuskan untuk mengelolanya dengan baik. Baik digunakan untuk kebutuhan konsumsi atau dibelanjakan maupun dikembangkan. Dalam hal ni maksud dari membelanjakan harta adalah bagaimana kita menyalurkan harat tersebut untuk dimanfaatkan pada hal yang baik seperti nafkah keluarga, membayar zakat, dan sebagainya. Pengembangan harta dilakukan sesuai dengan syariat Islam dengan cara usaha produktif dan lain sebagainya.

2.5    Unsur Penting Aktivitas Ekonomi Dalam Islam

Aktivitas dalam ekonomi umumnya terdiri dari 3 aktivitas yakni, produksi, distribusi dan konsumsi. Dalam ekonomi Islam aktivitas pentingnya juga sama seperti ekonomi konvensional.

  1. Produktif

Produksi merupakan kegiatan mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Produksi adalah kegiatan yang dilakukan manusia dalam menghasilkan suatu produk baik barang, maupun jasa ynag kemudian dimanfaatkan oleh konsumen. Dalam ekonomi Islam tujuan dari prosesnya adalah memberikan maslahah bagi umat. Untuk memproduksi sebuah barang atau jasa dibutuhkan yang namanya faktor produsksi. Faktor produksi sendiri trediri dari faktor produksi tetap (fixed input) dan faktor produksi variabel (variable input). Pembagian tersebut dikelompokkan sesuai dengan jangka waktu penggunaannya.

 

Sumber :

https://callcenters.id/