Nikmatilah Setiap Episode Hidup Ini
By: Date: April 29, 2020 Categories: Pendidikan
Nikmatilah Setiap Episode Hidup Ini

Nikmatilah Setiap Episode Hidup Ini

Nikmatilah Setiap Episode Hidup Ini

Nikmatilah Setiap Episode Hidup Ini

Pastilah setiap manusia yang hidup di dunia ini akan melalui aneka episode hidup yang telah ditetapkan-Nya. Terkadang ada episode yang membahagiakan dan terkadang pula ada episode yang menyedihkan. Dalam hidup ini, keduanya datang silih berganti.
Berikut ini, ada beberapa contoh episode hidup di dunia yang perlu kita sikapi dengan menikmatinya sehingga dapat menjadi tambahan pahala dan insya Allah menjadi ladang ibadah terhadap-Nya.

Menikmati Episode Sakit

Sakit (Marridl) menurut konsep Alquran punya dua dimensi, lahiriah dan bathiniah. Secara penyakit lahiriyah Allah menyinggung dalam firman-Nya: “Tidak ada dasar atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang-orang yang sakit (apabila tidak berperang).” (QS. Al Fath:17). Adapun penyebab penyakit lahiriyah ini ialah karena tidak berfungsinya sel, jaringan maupun organ manusia -baik karena aus atau karena kecelakaan–.

Sedangkan berkait dengan sakit dari sisi bathiniayah, Allah berfirman dalam QS. At Taubah:125, “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat (Alquran) itu bertambahlah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.”

Sakit bathiniyah ini disebabkan karena tidak berfungsinya hati (qalbun) manusia sebagai lembaga penerima hidayah Allah dalam sistem kejiwaan manusia. Orang sakit hatinya, hidup jauh dari keimanan yang haq, fikir dan rasanya akan menyeleweng dari tuntutan fitrah. Akibatnya, muncullah kontradiksi dalam hidupnya.

Pada tataran demikian, sakit mungkin hal yang menakutkan bagi kita. Sehingga, kita harus berupaya sungguh-sungguh untuk mencegahnya. Di sisi lain, pada saat Allah SWT menurunkan ujian suatu penyakit, terkadang manusia tidak bersabar, bersyukur, dan tawakkal dalam menghadapinya. Dan sebagian manusia ketika ditimpa penyakit biasanya jatuh mengeluh. Fisiknya lemas dan tidak bersemangat. Padahal secara psikologis, semakin banyak mengeluh, semakin terasa penderitaannya. Lebih-lebih ketika hati tidak mau menerima musibah ini (baca: pikiran yang tidak terkuasai dengan baik).

Pikiran yang salah itu, salah satunya karena belum paham terhadap hikmah dari penyakit yang menimpanya, sehingga salah dalam menyikapinya. Hasilnya, kita rugi di dunia dan di akhirat (baca: tidak menikmati episode sakit untuk mengharap pahala dari-Nya).

Padahal, kalau sudah tahu ilmunya tentu kita akan menikmati episode sakit ini. Sebuah hadis riwayat Az-zar mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin tidak boleh takut sakit karena jika tahu manfaat-manfaat sakit, niscaya dia akan menginginkan sakit, bahkan sampai mati.”

Sungguh banyak nikmat dari episode sakit ini. Sebuah hadis riwayat Jabir mengatakan, “Sesungguhnya demam itu menghilangkan dosa-dosa anak Adam sebagaimana halnya alat penghembus membantu menghilangkan kotoran dari besi.” Abu Hurairah menambahkan, Nabi Saw bersabda, “Jika Allah SWT berkehendak mencurahkan rahmat pada seseorang, maka Dia akan menjadikan orang itu merasakannya (sakit).” (HR. Bukhari).

Betapa nikmatnya, bila kita telah memahami hikmahnya, maka ternyata sakit itu adalah suatu takdir yang sangat menguntungkan karena akan menggugurkan dosa-dosa kita. Bukankah setiap saat kita ketika berdoa selalu merindukan ampunan-Nya? Sakit itulah, salah satu bentuk pengabulan keinginan kita tersebut.

Nabi Saw bersabda, “Ketika seseorang ditimpa penderitaan (sakit), maka Allah mengutus dua orang malaikat kepadanya. Dia berfirman, ‘Dengarkanlah apa kata hamba-Ku ketika ditengok orang-orang.’ Jika ia megucapkan Alhamdulillah, maka Allah berfirman kepada dua malaikat tersebut. ‘Sampaikanlah kepadanya, maka pasti masuk surga, dan jika ia Aku sembuhkan, maka pasti daging dan darahnya diganti dengan yang lebih baik daripada asalnya, serta kujadikan penderitaan (penyakitnya) sebagai penembus dosanya.'” (HR. Al Faqih).

Dalam bagian lain, Rasulullah bersabda, “Rintihan orang yang sakit ditulis sebagai tasbih, jeritannya sebagai tahlil, bernafasnya sebagai sedekah, tidurnya adalah ibadah, dan berbolak-baliknya ketika tidur seperti perang sabil. Dan ditulis pula baginya sebaik-baik amal yang biasanya ia lakukan di waktu sehatnya.”

Lebih jauh dari itu, hikmah sakit dapat dijadikan sebagai ladang tafakkur. Dengan sakit, kita dapat terhindar dari kemaksiatan -yang kemungkinan dilakukan jika kita sehat–. Dan kita menginsafi, betapa mahalnya nikmat hidup sehat. Selain itu, sakitpun ternyata menjadi jalan rezeki bagi yang menolongnya, yang sekaligus menjadi ladang amal saleh bila mereka ikhlas.

Jadi, atas dasar itulah, kita hendaknya menikmati episode sakit dalam hidup di dunia ini. Namun demikian, bukan berarti, lantas kita sama sekali mengabaikan ikhtiar mengobati penyakitnya. Rasulullah bersabda, “Berobatlah wahai hamba Allah!” Dalam hadis lain disebutan, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan tiap-tiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah!” (HR. Abu Daud).

Sumber : https://bingkis.co.id/tsuro-apk/