Menikmati Episode Mencari Kerja
By: Date: April 29, 2020 Categories: Pendidikan
Menikmati Episode Mencari Kerja

Menikmati Episode Mencari Kerja

Menikmati Episode Mencari Kerja

Menikmati Episode Mencari Kerja

Mencari kerja, berarti perbuatan melakukan sesuatu; sesuatu yang dilakukan (diperbuat) dalam berusaha supaya mendapat (beroleh, mengetemukan dsb) pekerjaan.
Menikmati episode mencari kerja, dimaksudkan sebagai keaktifan kita dalam mengisi episode hidup ini sebelum mendapat pekerjaan yang menjadi cita-cita kita. Artinya, kita tidak hanya mnyebarkan berbagai lamaran pekerjaan, dan setelah itu kita tidak melakukan kerja lainnya dalam menunggu hal itu. Singkatnya, ia bukanlah sosok pengangguran.

Pada kondisi seperti itu, aktivitas kita dalam menikmati episode mencari kerja ini, hendaknya tidak lain harus tetap melakukan kerja. Yakni kerja yang didasari atas kenikmatan bahwa kerja adalah mulia, tidak bekerja adalah hina.

Dalam hal ini, Nabi Saw telah merubah pandangan dunia, bahwa kemuliaan bukanlah terletak pada kebangsawanan darah, tidak pula pada jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak. Tetapi, kemuliaan adalah pada pekerjaan. Siapa yang bekerja, meskipun apa saja jenis usahanya (baca: asalkan halal), adalah suatu kehormatan.

Begitu pula sebaliknya, kehinaan bukanlah karena macam pekerjaan yang kita lakukan (misalnya menjadi kuli, pedagang, dll), karena semuanya itu adalah bekerja, dan ia adalah simbol kemuliaan. Adapun kehinaan ialah tidak bekerja, bermalas-malasan, menganggur, menghabiskan waktu dengan hal-hal sia-sia dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Potongan kisah berikut ini, kiranya dapat menunjukkan kepada kita bahwa seorang yang bekerja itu memiliki martabat dan meraih kemuliaan. Kisahnya, pada suatu hari kaum Hawariyyun -murid Nabi Isa as-berkata kepada Nabi Isa, “Wahai Ruhullah, kami lapar.”
Nabi Isa kemudian mengusap tanah di depannya. Tanah itu dalam sekejap berubah menjadi potongan-potongan roti. Maka, mereka memakan roti itu dengan lahapnya. Dan masing-masing mendapat dua potong.

Tak lama kemudian, mereka berkata lagi, “Wahai Ruhullah, kami haus.”
Nabi Isa seperti tadi, mengusap tanah didepannya yang dalam sekejap mengeluarkan air. Lalu, mereka pun segera meminum dengan nikmatnya.

Dalam keadaan kenyang dan gembira ria itu, salah seorang dari mereka berkata kepada kawan-kawannya, “Siapakah di dunia ini orang yang lebih mulia daripada kita? Ketika lapar, kita diberi makan. Ketika haus, kita diberi minum.”

Kawan-kawannya tentu saja menggangguk tanda setuju. Tapi Nabi Isa kemudian menjawab dengan satu kalimat yang membuat mereka malu. “Orang yang paling mulia di dunia ini adalah mereka yang makan dan minum dengan hasil kerja sendiri.”

Lebih dari itu, Nabi Saw pernah mengatakan bekerja ini sama dengan berjuang dijalan Allah. Suatu pagi Rasulullah duduk bersama para sahabatnya. Saat itu, mereka melihat seorang pemuda berbadan tegap dan kekar sedang berjalan. Seorang diantara mereka berkata sinis, “Huh…, pemuda apa itu! Alangkah baiknya kalau kemudaan dan kekuatan tubuhnya itu diabadikan dalam perjuangan di jalan Allah, yaitu berperang.”
Mendengar itu, Nabi menyahut, “Janganlah kalian berkata begitu! Kalau ia pergi hendak bekerja (berusaha) untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri agar tidak tergantung pada orang lain, itu sudah merupakan perjuangan di jalan Allah. Kalau ia berusaha mencukupi penghidupan ayah ibunya yang sudah lemah, atau memberi nafkah kepada keluarganya agar mereka tidak meminta-minta belas kasihan orang lain, itu pun sudah merupakan perjuangan di jalan Allah!”

Dari kisah tersebut, setidaknya telah menyadarkan kita bahwa dalam menikmati episode hidup mencari kerja, maka kita perlu melakukan kerja setiap hari. Bukankah, Allah sendiri dalam memberi rezeki kepada setiap manusia itu sesuai dengan yang kita usahakan? (baca: QS. 53:39).

Untuk itu, janganlah atas nama sedang mencari kerja, lantas kita terus-terusan berpangku tangan pada orang lain. Hal ini, tentu bukan suatu perbuatan mulia. Bukankah, kita sebagai manusia hanya mampu berusaha -ikhtiar-dan hanya Allah SWT yang akan menentukan nasib kita (baca: termasuk dengan pekerjaan kita)? Sehingga sudah selayaknya kita nikmati episode mencari kerja ini dengan melakukan sebanyak-banyaknya kerja. Hal ini dimaksudkan agar dapat memunculkan potensi kerja yang tepat bagi kita. Bahkan, bila perlu merubah paradigma kita, dari paradigma mencari kerja ke paradigma mencipta lapangan kerja. Nabi Saw dalam sabdanya mengingatkan kita bahwa, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kamu berusaha maka oleh sebab itu hendaklah kamu rajin berusaha.(HR. At Thabrany).

Baca Juga :