Mengapa Indonesia perlu UU Perlindungan Data Pribadi?

Mengapa Indonesia perlu UU Perlindungan Data Pribadi?

Mengapa Indonesia perlu UU Perlindungan Data Pribadi

Era internet mempermudah pertukaran informasi maupun akses ke berbagai layanan, namun, ada harga yang harus dibayar untuk hal itu, yaitu data.

“Data pribadi di era digital pasti dipertukarkan,” kata Direktur Jenderal Aplikasi

Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Pangerapan saat diskusi “Darurat Perlindungan Data Pribadi di Era Digital 4.0” di Jakarta, Senin.

Semuel mengibaratkan di era digital, ketika ingin berbelanja, data lah yang berjalan, bukan lagi pembeli yang harus berjalan ke toko. Saat berbelanja di toko online, data akan berpindah dari pemilik data ke penyedia platform berjualan, kemudian ke penjual barang atau jasa, juga ke penyedia pembayaran dan layanan pengantaran barang.

“Untuk itu, perlu perlindungan data pribadi, bagaimana menggunakan data pribadi tersebut,” kata Semuel.

Data pada era digital ini memiliki nilai yang tinggi, berbagai risiko mengintai data pribadi di masa kini seperti kebocoran data, penyalahgunaan data pribadi hingga jual-beli data pribadi.

Data pun dipertukarkan secara lintas negara sehingga perlu ada kesetaraan dalam

aturan perlindungan data pribadi secara internasional.

Indonesia pun memiliki kebutuhan peraturan perlindungan data pribadi yang komprehensif karena aturan yang ada saat ini masih bersifat parsial dan tersebar di berbagai sektor.

Aturan yang mencakup data pribadi yang ada saat ini antara lain Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, atau UU ITE dan Peraturan Pemerintah nomor 71 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Selain itu, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia belum diimbangi dengan

kesadaran melindungi data pribadi. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2018 menyebutkan pengguna internet mencapai 171 juta orang dari total penduduk 264 juta jiwa.

 

Baca Juga :