MAKNA KAJIAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA BAGI HISTORIOGRAFI INDONESIA
By: Date: September 14, 2020 Categories: Umum

MAKNA KAJIAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA BAGI HISTORIOGRAFI INDONESIA

 

Makna Kajian Kebudayaan bagi Historiografi Indonesia

Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”.[2]
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti “daya” dan “budi”. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan dan rasa tersebut.[3]
Sejarah dan kebudayaan mempunyai obyek yang sama yaitu manusia, maka penelitian sejarah dengan pendekatan kebudayaan merupakan langkah yang tepat. Sejarah dan kebudayaan bagaikan dua sisi mata uang. Sejarah tergantung kepada kebudayaan. Sebaliknya, kebudayaan memerlukan sejarah ketika menjelaskan perkembangan kebudayaan.
Kajian kebudayaan memakai pendekatan sinkronis, sedangkan sejarah memakai pendekatan diakronis. Dalam perkembangannya, sejarah tidak hanya disebut ilmu yang diakronis, tetapi juga sinkronis. Sejarah selain memanjang dalam waktu, juga melebar dalam ruang. Di sinilah, titik temu antara sejarah dan kebudayaan. Semua mentifact, socifact, dan artifact adalah produk historis, yang secara vertical tersambungkan dengan mentifact sebagai penggagas. Socifact dan artifact adalah turunan dari mentifact. Selanjutnya, mentifact, socifact, dan artifact dapat menjadi obyek dalam penulisan sejarah dengan menggunakan pendekatan kebudayaan atau antropologis.[4]

2.2 Makna Kajian Agama bagi Historiografi Indonesia
Kata agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu berasal dari kata a (tidak) dan gama (kacau), yang bila digabungkan menjadi sesuatu yang tidak kacau. Dan agama ini bertujuan untuk memelihara atau mengatur hubungan seseorang atau sekelompok orang terhadap realitas tertinggi yaitu Tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata agama berarti prinsip kepercayaan kepada Tuhan.[5]
Di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, sejatinya esensi Islam dan kebudayaannya merupakan hal yang niscaya dalam studi historiografi, baik masa klasik maupun modern. Oleh karena itu, dalam uraiannya akan jelas memperlihatkan historis yang agamis. Penulisan yang dilakukan H. Abdul Malik Karim Amrullah misalnya, Sejarah Ummat Islam IV, selain karena pengambilan sumbernya dari buku-buku sejarah yang ditulis oleh penulis muslim, sejarah melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang, Hikayat Raja-raja Pasai oleh Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, buku tersebut dikritik olehnya karena memiliki banyak kekurangan. Buku sejarah Melayu dan hikayat raja-raja Pasai dikarang pada abad ke-17, semasa Aceh dalam masa kemegahannya dan Johor sudah jatuh, situasi itu memengaruhi penulisan buku tersebut.[6]
Sejarawan Eropa, George Mc. T. Kahin (1952) menulis tentang dinamika Muhammadiyyah (organisasi muslim pembaharu) dalam partai Masyumi, di dalamya menjelaskan tentang ideology Muhammadiyyah dan dinamika pergerakannya. Pada perkembangan selanjutnya muncul gagasan Sejarah Nasional yang diidentikkan oleh Sartono kartodirjo sebagai kumpulan sejarah-sejarah lokal yang secara integral dibahas dalam Seminar Sejarah Nasional pertama (1957) secara implisit menggambarkan penulisan baru Sejarah Nasional Indonesia. Artinya, sejarah Islam Indonesia-pun ikut terkupas di dalamnya


Sumber: https://belantaraindonesia.org/