Komunitas Anak Alam, Penjaga Mimpi Bocah Putus Sekolah
By: Date: December 19, 2019 Categories: Pendidikan
Komunitas Anak Alam, Penjaga Mimpi Bocah Putus Sekolah

Komunitas Anak Alam, Penjaga Mimpi Bocah Putus Sekolah

Komunitas Anak Alam, Penjaga Mimpi Bocah Putus Sekolah

Komunitas Anak Alam, Penjaga Mimpi Bocah Putus Sekolah

Denpasar Setiap manusia di muka bumi ini pasti memiliki cita-cita dan harapan. Dan, salah satu harapan itu adalah mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah paling tinggi. Setidaknya, dengan mengenyam pendidikan tinggi kita memiliki bekal untuk masa depan kita.

Namun tak sedikit mereka yang terpaksa mengubur dalam-dalam asa mereka lantaran tak memiliki biaya untuk menempuh pendidikan. Putus sekolah di usia dini rupanya menjadi momok bagi mereka. Tak terkecuali di Bali, khususnya di Kabupaten Bangli.

Melihat banyaknya anak putus sekolah lantaran keterbatasan ekonomi orangtua mereka, Putu Pande Setiawan tergerak. Ia mendirikan Komunitas Anak Alam. Komunitas itu ia dirikan untuk memberi pendidikan alternatif kepada anak-anak putus sekolah di Kabupaten Bangli.

Baca Juga

Kisah Guru Berbayar Ketela di Sekolah Alam Pinggir Hutan Banyumas
Safari Ramadan ke Sekolah Alam Luar Biasa di Luwuk Timur
Berbagi Kebaikan Lewat Sekolah Alam Gratis Dik Doank

Namun dalam perkembangannya, komunitas yang didirikan oleh Pande memberikan beasiswa kepada anak-anak tersebut, minimal hingga SMA/SMK. Beberapa di antaranya beruntung mampu mengenyam perguruan tinggi.

Kepada Liputan6.com, Pande bercerita awal mula ia tergerak membentuk Komunitas Anak Alam.

“Setiap orang memiliki mimpi, demikian juga saya. Di antaranya mungkin dapat mengenyam pendidikan yang baik. Dan saya beruntung mendapatkannya, dengan susah payah tentunya,” kata Pande membuka perbincangan, Sabtu (2/11/2019).

Pande menamatkan pendidikan perguruan tinggi di STT Telkom Bandung.

Kemudian ia melanjutkan studi S2 Magister Manajenen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dari sana ia mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke University of Victoria Kanada.

Suatu ketika, Pande pulang ke rumah almarhum orangtuanya yang merupakan pensiunan pekerja medis di Kintamani, Bangli. Ketika ia sedang jalan-jalan ke pelosok pedesaan di perbukitan, ia bertemu anak-anak yang tidak seberuntung dirinya dalam hal pendidikan.

2 dari 3 halaman
Tergerak Melihat Anak Putus Sekolah
Komunitas Anak Alam
Putu Pande Setiawan bersama anak-anak asuh di Komunitas Anak Alam (Liputan6.com/Dewi Divianta)

“Tahun 2006. Saya berkunjung ke Belandingan, sebuah desa di atas ketinggian bukit sisi timur laut kaldera Batur. Masih ada anak-anak yang susah untuk melanjutkan sekolah SMP. Hati saya tergerak secara alamiah. Sebagai anak muda terdidik, melihat situasi ini saya merasa bahwa banyak hal yang lebih baik yang seharusnya terjadi kepada mereka,” kata Pande.

Perjumpaan Pande dengan anak-anak malang itu tak putus sampai di situ. Pada suatu kesempatan, Pande kembali mengunjungi daerah tersebut. Setelah ia menamatkan pendidikan S2, Pande memilih totalitas bersama anak-anak kurang beruntung tersebut.

“Saya mulai ikut bermain bersama mereka, pergi ke ladang, naik pohon dan

mengikuti aktivitas keseharian mereka, hingga sesekali menginap di rumah mereka,” ceritanya.

Mereka mulai belajar apa saja yang penting buat anak-anak senang. Mulai dari membaca, pantun, hingga belajar fotografi. Semua itu dilakukannya seorang diri. Ia melakukan hal tersebut sembari mengisi waktu luang.

Rutinitas Pande rupanya diketahui oleh teman-temannya. Kemudian mulai ada yang ingin ikut melakukan aktivitas berkunjung ke tempat mengajar anak-anak.

Pada tahun 2009, Pande mendirikan Komunitas Anak Alam. Komunitas itu menjadi

wadah membantu anak-anak untuk mengenal lebih luas tentang pendidikan. Komunitas itu juga diharapkan dapat memberi kesempatan lebih banyak bagi anak-anak mengenal pendidikan non-formal hingga pendidikan formal.

“Saat ini, Komunitas Anak Alam sudah berdiri 13 tahun. Melalui program Kakak Asuh Bali saat ini kurang lebih membantu menyekolahkan 300 anak dan melalui program Bali Baca Buku mengelola kurang lebih 12 kelas belajar,” katanya.

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/home-memories/