Klasifikasi Akad dalam Kegiatan Landing
By: Date: July 3, 2020 Categories: Otomotif

Klasifikasi Akad dalam Kegiatan Landing

Akad yang digunakan dalam penyaluran dana atau pembiayaan antara lain:

  1. Akad Jual Beli

Jual beli merupakan transaksi yang dilakukan oleh pihak penjual dan pembeli atas suatu barang dan jasa yang menjadi objek transaksi jual beli. Akad jual beli dapat diaplikasikan dalam pembiayaan yang diberikan oleh bank Syariah. Pembiayaan yang menggunakan akad jual beli dikembangkan di bank syariah dalam tiga jenis pembiayaan, yaitu pembiayaan murabahah, istishna, dan salam. Return atas pembiayaan jual beli berasal dari selisih harga jual dan harga beli, disebut margin keuntungan.

  1. Landasan hukum:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

  1. Rukun dan syarat:
  2. a)Rukun
  3. Penjual, pihak yang memiliki barang yang diperjual belikan
  4. Pembeli, pihak yang ingin mendapatkan barang, dengan membayar sejumlah uang tertentu pada si penjual.
  5. Objek, barang yang diperjual belikan
  6. Harga transaksi jual beli yang harus disebutkan dengan jelas yang telah disepakati antara penjual dan pembeli
  7. Ijab qabul, serah terima barang
  8. b)Syarat
  9. Pihak yang berakad harus ikhlas atau keridhoan antara keduanya dan memiliki daya untuk melakukan transaksi jual beli.
  10. Objek barangnya ada dan  jelas, juga ada kesanggupan dari penjual untuk mengadakan barang yang akan dijual, barang yang dijual adalah milik sah penjual, dan barang yang diperjual belikan harus halal.
  11. Harga: Harga jual yang ditawarkan oleh bank merupakan harga beli ditambah dengan margin keuntungan,[6] harga jual tidak boleh berubah selama dalam masa perjanjian, sistem pembayaran disepakati bersama.
  12. Akad Kerjasama Usaha/ Bagi Hasil

Pembiayaan kerja sama bank syariah merupakan aktivitas penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa kerja sama usaha antara bank syariah dan pihak yang membutuhkan modal untuk meningkatkan volume usahanya. Kerjasama usaha bank syariah dengan nasabah merupakan kerja sama yang dilakukan kedua pihak unuk menjalankan usaha dan atas hasil usaha yang dijalankan, maka akan dibagi sesuai dengan nisbah yang telah disepakati antara bank syariah dan nasabah.[7]

Pembiayaan kerja sama usaha yang disalurkan oleh bank syariah kepada nsaabah merupakan investasi yang dilakukan oleh pihak bank syariah kepada nasabah. Pihak bank syariah mempercayai nasabah dalam menjalankan usahanya untuk memperoleh keuntungan. Kemudian keuntungan atau hasil usaha ini akan dibagi antara bank syariah dan nasabah. Dari bagi hasil yang diterima pihak bank syariah merupakan imbalan atas pembiayaan kepada nasabah.

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/