Ketika Serangan dan Fitnah Datang Bertubi-tubi, Allah adalah Sebaik-baik Pembuat Rencana

Ketika Serangan dan Fitnah Datang Bertubi-tubi, Allah adalah Sebaik-baik Pembuat Rencana

Ketika Serangan dan Fitnah Datang Bertubi-tubi, Allah adalah Sebaik-baik Pembuat Rencana
Ketika Serangan dan Fitnah Datang Bertubi-tubi, Allah adalah Sebaik-baik Pembuat Rencana

PADA 2016, publik dibuat heboh dengan kriminalisasi yang dilakukan terhadap Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti. Sang ketua dituduh melakukan penyalahgunaan dana Kadin Jatim dalam program akselerasi perdagangan antar pulau dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Padahal, program itu telah diakui oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan banyak kalangan mampu menggerakkan perekonomian, terutama dalam mendongkrak kinerja UMKM.

Terbukti perdagangan antar-pulau Jatim selalu surplus. Namun, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba La Nyalla diseret dalam hiruk-pikuk perkara dana Kadin Jatim. La Nyalla diposisikan sebagai “orang jahat”. Dia difitnah mencuci uang hingga ratusan miliar, bahkan ada yang menyebut Rp250 miliar.

Dananya di bank diblokir, usahanya dihambat, nama baiknya dihancurleburkan.

“Setahun penuh sepanjang 2016 saya dihajar, tapi saya terus berupaya tegar. Ada pihak yang berencana menghancurkan saya, tapi Allah SWT adalah sebaik-baik pembuat rencana,” kata La Nyalla.

Usaha memfitnah La Nyalla pada akhirnya gagal karena tak satu pun isu yang dituduhkan terbukti di pengadilan. Majelis hakim malah berulang kali menyatakan La Nyalla tidak terlibat dalam perkara penyalahgunaan dana Kadin Jatim. Mulai dari praperadilan hingga sidang pokok perkara, majelis hakim menyatakan La Nyalla tak terlibat perkara dana Kadin Jatim.

“Pada akhirnya saya semakin yakin, kebenaran bisa disalahkan, tapi kebenaran tak bisa dikalahkan,” ujar La Nyalla.

Awal Mula Program Kadin Jatim

Sejak 2010, Kadin Jatim melihat adanya tren penurunan ekonomi global. Dampak

krisis global 2008 belum sepenuhnya pulih. Bagi Jawa Timur, kondisi itu tentu harus diantisipasi. Karena pasar ekspor berpotensi menyempit, maka pasar dalam negeri harus dioptimalkan. Indonesia punya lebih dari 240 juta penduduk, sebuah angka yang bukan main besarnya. Populasi Indonesia adalah sekitar 40 persen populasi ASEAN.

Kadin Jatim saat itu punya pemikiran, jika pasar dalam negeri tak dikuasai, maka barang imporlah yang akan menguasainya. Maka Kadin Jatim pun berinisiatif mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur untuk ”menyerbu” pasar dalam negeri di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dari sanalah muncul inisiatif program akselerasi perdagangan antarpulau yang melibatkan banyak UMKM di Jatim.

Program itu kemudian mendapat dukungan dari Pemprov Jatim, dan mulai

dijalankan sejak 2011.Secara bergiliran, Kadin Jatim bersama UMKM-UMKMM berkeliling ke berbagai provinsi di Indonesia, dari ujung barat sampai timur negeri ini. Pemetaan pasar dilakukan, pertemuan-pertemuan bisnis digelar. Hasilnya tak lama kemudian kelihatan. Pada triwulan I/2013 saha, perdagangan antarpulau Jatim sudah surplus hingga Rp 14,06 triliun. Angka itu terus melonjak menjadi Rp 47 triliun pada 2015 dan Rp 54 triliun pada 2016.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/z6b2/badminton-sports-history