Karakteristik Hipotesis
By: Date: July 1, 2020 Categories: Pendidikan
Karakteristik Hipotesis

Karakteristik HipotesisKarakteristik Hipotesis

Kriteria-keriteria tersebut untuk menilai kelayakan hipotesis yang diajukan:

  1. Hipotesis harus mempunyai daya penjelas

Suatu hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya diterangkan. Ini adalah ktriteria yang sudah jelas dan penting. Sebagi contoh, misalkan anda mencoba menstater mesin mobil anda, ternyata mesin tidak mau hidup. Hipotesis yang menyatakan bahwa mesin tidak mau hidup karena anda membiarkan air dikamar madi mengalir keselokan, bukan merupakan penjelasan tepat. Hipotesis yang mengatakan bahwa akinya mati adalah penjelasan yang tepat dan perlu diuji.

  1. Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variabel-variabel

Suatu hipotesis harus mampu menerka atau menduga hubungan antara dua atau lebih variabel. Dalam contoh kita diatas, tidak ada gunanya kita menyatakan bahwa anak-anak berbeda satu sama lain dalm konsep diri, mereka akan berbeda satu sama lain pula dalam hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Pernyataan ini tampaknya seperti suatu hipotesis, sampai anda sadar bahwa tidak ada pernyataan apapun tentang hubungan yang diharapkan. Hubungan yang diharapkan dapat dituliskan dalam bentuk pernyataan konsep diri yang tinggi merupakan penyebab hasil belajar yang lebih tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan sosial. Hipotesis itu kemudian dirumuskan akan terdapat hubungan positif atara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial.

  1. Hipotesis harus dapat diuji

Dikatakan bahwa sifat terpenting dari hipotesis yang baik adalah kemampuannya untuk diuji. Suatu hipotesis yang dapat diuji berarti dapat ditahkikan (verifiable)  artinya, deduksi, kesimpulan, dan prakiraan dapat ditarik dari hipotesis tersebut, sehingga dapat dilakukan pengamatan empiris yang akan mendukung atau tidak mendukung hipotesis tersebut. Hipotesis yang dapat diuji memungkinkan peneliti menetapkan, berdasarkan pengamatan, apakah akibat yang tersirat. Agar dapat diuji hipotesis harus menghubungkan variabel-variabel yang dapat diukur.

  1. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada

Hipotesis yang dikemukakan hendaknya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum-hukum yang sebelumnya sudah mapan. Didalam sejarah ilmu pengetahuan diketahui bahwa orang-orang seperti Einstein, Newton, Darwin, Copernicus, dan lain-lainnya telah mengembangkan hipotesis yang benar-benar revolusioner dan bertentangan dengan pengetahuan yang telah diterima orang pada masa itu. Tetapi, harus diingat bahwa karya para pelopor itu bukan merupakan penolakan sama sekali terhadap pengetahuan sebelumnya, karena penemuan mereka merupakan penataan kembali pengetahuan terdahulu menjadi teori yang lebih memuaskan.

  1. Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin

Menyatakan hipotesis secara sederhana bukan saja memudahkan pengujian hipotesis tersebut, melainkan juga dapat menjadi dasar bagi penyusunan laporan yang jelas dan mudah dimengerti pada akhir penyelidikan.

 

Jenis Hipotesis

Jenis hipotesis berdasarkan ada atau tidaknya hubungan adalah sebagai berikut:

  1. Hipotesis Nol

Hipotesis Nol menyatakan lawan dari apa yang diharapkan atau diprediksi oleh peneliti. Disebut dengan hipotesis nol karena menyatakan bahwa  “tidak ada perbedaan”, “tidak berpengaruh”, atau “tidak ada hubungan” antara hal yang diteliti. Hipotesis nol diasumsikan bahwa perbedaan yang diamati terjadi hanya karena faktor kebetulan saja dan tidak mewakili adanya perbedaan yang nyata.

 

  1. Hipotesis Alternatif

Jika uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan yang diamati terjadi bukan karena faktor kebetulan melainkan perbedaan yang nyata serta bukti-bukti yang ada telah mencukupi, maka hipotesis nol tidak dapat diterima. Hipotesis alterbative yang banyak dibangun dari literatur dan studi yang telah ada menjadi asumsi yang dapat diterima.


Baca juga: