Gagak yang Tidak Bersyukur

Gagak yang Tidak Bersyukur

Sekelompok gagak tinggal di dekat sebuah sungai, Mereka hidup saling mengasihi.

Mereka juga tolong-menolong dan bekerja sama saat mencari makan.

Sayangnya, di antara gagak-gagak itu, ada satu gagak yang tidak pernah bersyukur Ia selalu mengetuh.

Di sungai itu, tinggal pula sekelompok bangau.

Bagi gagak yang tidak pernah bersyukur itu, bangau-bangau tersebut sangat cantik. Mereka memiliki bulu yang putih. Sedangkan dia? Dia berbutu hitam. Ia pun selalu membanding-bandingkan dirinya. Bagi gagak, ia dan kawanannya adalah burung yang buruk rupa.

“Alangkah senangnya menjadi burung bangau, memiliki bulu berwarna putih dan cantik. Tidak seperti kawananku, semuanya berwarna hitam,” ketuh gagak.

Olala, salah satu kawanan gagak mendengar perkataan gagak.

Kawanan yang mendengar itu pun menjadi marah.

Kenapa harus merasa tak beruntung? Tuhan telah menciptakan makhtuk-Nya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Meski kawanan gagak berwarna hitam, tapi kawanan gagak sangat bersahabat dan gemar tolong-menolong.

Itulah keistimewaan gagak. Memang, ketika tidak pandai bersyukur, apa yang dimiliki akan selalu dianggap kurang dan tidak sebaik milik orang lain.

“Lebih baik aku ikut bersama kawanan bangau. Mungkin mereka mau memberi tahuku rahasia agar butuku bisa secantik butu mereka,” ucap gagak.

Sayangnya, tak ada satu pun bangau yang bersedia memberikan rahasia.

Gagak pun mempunyai ide.

Ia memunguti bulu-bulu bangau yang berjatuhan, lalu menempelkannya ke tubuhnya.

Sekarang ia berwarna putih, sama seperti bangau.

Setelah itu, gagak kembali ke kawanannya. Dengan sombong, ia memamerkan bulu barunya.

“Lihatlah! Buluku sekarang sudah cantik, bukan? Putih dan bersih. Tidak seperti kalian, hitam,” ujar gagak dengan congkaknya.

Namun, kawanan gagak tak peduli terhadapnya.

“Sudahlah. Aku akan bergabung dengan kawanan bangau saja. Lagi pula, kecantikanku sudah sama dengan mereka,” pikir gagak.

Gagak pun terbang, lalu bergabung dengan kawanan bangau.

“Hai, bangau. Lihatlah! Buluku sama cantiknya dengan bulu kalian, bukan?” ujar gagak, sambil mengembangkan sayapnya. Ia berharap, bangau akan terkesan kepadanya. Tapi, apa yang terjadi?

Olala, kawanan bangau tidak peduli. Mereka bahkan mengusir gagak.

“Kamu bukan kawanan kami. Pergilah, jangan ganggu kami!” gertak salah satu bangau.

Gagak pun menjadi sedih. Ia tidak diterima oleh kawanan bangau.

“Ah, aku kembali saja ke kawananku. Pasti mereka masih menerimaku. Dan aku akan menjadi gagak paling cantik disana.” pikir gagak sambil terbang ke kawanannya.

Sayang seribu sayang, kawanan gagak pun sudah tak peduli kepadanya. Mereka tidak mau menerima gagak yang tidak bersykur kembali. Gagak tersebut sungguh sangat sedih, itulah akibatnya kalau tidak mau bersyukur.

Baca Juga :