Filosofi Bungkus dan Isi

Table of Contents

Filosofi Bungkus dan Isi

FILOSOFI BUNGKUS DAN ISI
FILOSOFI BUNGKUS DAN ISI

Ada sebuah kisah tentang seorang penasihat kerajaan yang sangat  disegani.  Penasihat ini buruk rupa dan bongkok, namun kata-katanya sangat didengar oleh raja.   Melihat fakta ini, putri sang raja heran dan iri.  Suatu saat sang putri mengejek dan bertanya kepada penasihat ini, “Jika engkau bijaksana, beri tahu aku mengapa Tuhan menyimpan kebijaksanaan-Nya dalam diri orang yang buruk rupa dan bongkok?”

Penasihat itu balik bertanya, “Apakah ayahmu mempunyai anggur?”

Sang putri langsung menjawab, “Semua orang tahu ayahku mempunyai anggur terbaik, pertanyaan bodoh macam itu?”

Sang penasihat kemudian bertanya lagi, “Di mana ia meletakkannya?”

Dengan cepat sang putri menjawab, “Yang pasti di dalam bejana tanah liat.”

Mendengar itu, sang penasihat tertawa sambil berkata, “Seorang raja yang kaya akan emas dan perak seperti ayahmu menggunakan  bejana tanah liat?”

Mendengar itu putri raja berlalu meninggalkannya dengan rasa malu.  Ia segera memerintahkan pelayan memindahkan semua anggur yang ada di dalam bejana tanah liat ke dalam bejana yang terbuat dari emas dan perak.

Suatu hari sang raja mengadakan jamuan bagi para tamu kerajaan.  Alangkah terkejutnya raja karena anggur yang diminumnya rasanya sangat masam.  Akhirnya ia memanggil semua pelayan istana dan tahulah sang raja bahwa itu adalah ulah putrinya.

Putri raja berkata kepada penasihat kerajaan, “Mengapa engkau menipuku? Aku memindahkan semua anggur ke dalam bejana emas tapi hasilnya semua anggur terasa asam.”

Dengan tenang penasihat kerajaan menjawab, “Sekarang engkau tahu mengapa Tuhan lebih suka menempatkan kebijaksanaan dalam wadah yang sederhana.”

***

Kisah di atas hanya mengingatkan kita, agar jangan pernah tertipu wadah atau penampilan seseorang.  Orang yang berpenampilan necis dan klimis jangan-jangan memiliki utang kartu kredit yang besar.  Sementara orang yang sederhana dan biasa ternyata justru sudah memiliki kebebasan finansial dan tidak terlilit hutang.  Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang terlihat gembira, belum tentu hatinya gembira. Bisa saja tertawa dan senyum hanya bungkusnya, namun kepedihan dan air mata adalah isinya. Pesan moral dari renungan ini sama seperti pepatah “don’t judge a book by its cover

Sadar atau tidak sebagai manusia kita memang selalu membandingkan yang satu dengan lainnya, dan apa yang kita lihat akan terasossiasi menjadi sesuatu yang kita anggap lumrah. melihat orang yang berpakaian necis, berjas dan berdasi, tentu otak kita akan menganggap orang tersebut seorang pengusaha. Ketika melihat orang bersorban kita mengatakan bahwa orang tersebut seorang yang suka beribadah. Melihat orang berpakaian kusut dan compang-camping tentu kita akan menganggapnya orang jalanan.

Memang tak bisa dipungkiri, ketika bertemu dengan orang pertama kali, memberi skor terhadap penampilan orang adalah hal yang sering sulit dihindari. Padahal sejak dulu kita sudah tahu, menilai hanya dari penampilan sebenarnya merampas kesempatan kita mengenal pribadi seseorang yang sebenarnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam  kitabnya Al-Ubudiyyah, “(Ciri khas) orang yang berakal adalah melihat hakikat (sesuatu), tidak terjebak dengan zahirnya”. Dalam berbagai sisi kehidupan banyak orang yang tertipu dengan penampilan dan fenomena fisik. Mereka tidak melihat rahasia hakikat di balik penampilan fenomena fisik tersebut.

Hati-hatilah dalam menilai, sebab apabila kita menilai buruk seseorang. Ingatlah bahwa setiap orang diciptakan Tuhan karena sebuah alasan. Begitu juga dengan orang yang kita nilai. Padahal, tidak ada ciptaan di dunia ini yang tidak berguna. Nyamuk yang kecil diciptakan bukan untuk menggigit manusia tapi untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Meremehkan ciptaanNya sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta. Manusia yang kita nilai buruk itu adalah ciptaan Sang Pencipta. Jadi, sebelum menilai ia buruk, perhatikan baik-baik, dan ingat tentang hal ini.

Oleh karena itu, biasakanlah melihat isinya, bukan wadahnya.  Jadilah orang yang rendah hati, sederhana dan bersahaja. Namun, bukan berarti bungkus tak penting, hanya saja isi harus lebih mendapat perhatian. Utamakanlah isinya, rawatlah bungkusnya. Toh kebaikan sekalipun kalau tidak dibungkus dengan kebaikan pula, akan menjadi hal yang kurang baik.

Sumber : https://filehippo.co.id/