Dari Hipotetik dan Mendidik menuju Generasi Emas

Dari Hipotetik dan Mendidik menuju Generasi Emas

Dari Hipotetik dan Mendidik menuju Generasi Emas
Dari Hipotetik dan Mendidik menuju Generasi Emas

Apabila siswa memenangi olimpiade fisika misalnya, maka guru fisika menjadi orang yang bisa dikatakan paling berjasa. Apabila siswa memenangi lomba pidato bahasa Inggris misalnya, maka guru bahasa Inggris akan menjadi guru yang paling berjasa. Demikian juga ketika siswa memenangi lomba atletik, maka guru olahraga menjadi yang paling berjasa. Namun apabila ada siswa yang tawuran siapa yang bertanggung jawab? Pejabat negara yang korupsi, apakah dulu gurunya saat di sekolah ikut bertanggung jawab (secara moral)?

Kita tidak kekurangan guru, ada pendidikan karakter bangsa, gedung sekolah sudah lebih baik, namun ada satu yang mungkin mulai langka di jaman sekarang yaitu keteladanan dan kepemimpinan yang ikhlas. Keteladanan dan kepemimpinan yang ikhlas dari guru-guru ini yang akan menjadi cermin menyiapkan generasi emas Indonesia dengan penyiapan pendidikan yang bermutu. Kita menjadi pembelajar dan hasil atau cerminan kita akan terlihat saat para siswa sudah memiliki profesi atau bekerja sesuai usianya.

Generasi Emas 2045

Dalam sambutan Mendikbud, M. Nuh pada peringatan hari Pendidikan Nasional tahun 2014 dinyatakan bahwa “generasi emas 2045 adalah generasi yang kreatif, inovatif, produktif, mampu berpikir orde tinggi, berkarakter, serta cinta dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Dengan Generasi emas itulah, kita bangun peradaban Indonesia yang unggul, menuju kejayaan Indonesia 2045″

Generasi emas yang di launching oleh Mendiknas pada tanggal 2 Mei 2012 diproyeksikan sebagai hadian 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Masih menurut M. Nuh, dari tahun 2012 sampai 2035, Indonesia memperoleh bonus demografi yaitu jumlah penduduk usia produktif paling tinggi di antara usia anak-anak dan orang tua. Dari data yang diperoleh Badan Pusat Statistik 2011 bahwa jumlah anak usia 0-9 tahun mencapai 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Mereka inilah anak-anak kader Generasi Emas 2045, karena nantinya pada 2045 mereka yang berusia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun dan yang berusia 10-19 tahun akan berusia 45-54 tahun. Dan memang orang-orang usia ini lah yang nantinya akan menjadi pemegang pemerintahan dan roda kehidupan di Indonesia.

Namun kita harus ingat bahwa peserta didik adalah warganegara hipotetik, yakni warganegara yang “belum jadi” karena masih harus dididik menjadi warganegara dewasa yang sadar akan hak dan kewajibannya (Budimansyah, 2007:11). Oleh karena itu setiap siswa dalam rombongan belajarnya merupakan generasi bangsa yang baru dalam tahun belajarnya sehingga membutuhkan pembelajaran yang berbeda pendekatan. Mendidik generasi sekarang jangan disamakan meode dan model pembelajarannya dengan saat kita menjadi siswa, sebab tantangan, situasi dan kondisinya sudah berbeda.

Sumber : https://filehippo.co.id/