Akad dan Produk Berbasis Jual Beli
By: Date: July 3, 2020 Categories: Otomotif

 Akad dan Produk Berbasis Jual Beli

Menurut etimologi jual beli dapat diartikan sebagai pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata lain dari al-ba’i adalah asy-syira’, al-mubadah, dan at-tijarah.[8] Pendapat lainnya yakni Al ba’i secara bahasa adalah masdar dari baa’a arti asalnya: pertukaran harta dengan harta dan umum digunakan dalam arti “transaksi” secara majaz, karena al ba’i menjadi sebab kepemilikan. Al bai umum digunakan juga atas tiap-tiap satu dari dua orang yang bertransaksi (al ba’i bisa diartikan penjual). Tetapi kata-kata al ba’i ketika disebut secara bebas yang paling cepat bisa diterima oleh pikiran artinya ialah “orang yang memberikan barang” dan al bai’ jika disebut secara bebas bisa diartikan “barang dagangan” (al Mishbahu al Munir 69).[9] Dalam buku Fiqih Islam Wa Aadilatuhu Jilid 4 disebutkan bahwa jual beli dalam bahasa arab dikenal dengan al-ba’i yang berarti menjual, mengganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Prinsip jual-beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepimilikan barang atau benda (transfer of property).[10] Keuntungan telah ditentukan di awal dan menjadi bagian dari harga atas barang yang ditransaksikan.

2.3.1        Pembiayaan Murabahah

Murabahah (al-ba’i bi tsaman ajil) lebih dikenal sebagai murabahah saja. Murabahah, yang berasal dari kata ribhu (keuntungan), dalah transaksi jual-beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya.[11]

Pihak penjual dan pihak pembeli harus menyepakati terlebih dahulu harga jual dan tempo pembayaran. Kedua hal tersebut harus dicantumkan dalam akad dan apabila telah disetujui tidak dapat diubah lagi selama terjadinya akad. Dalam penerapannya di dunia perbankan syariah di Indonesia biasanya menggunakan sistem mencicil atau tangguhan.

Sebagai contoh pembeli (nasabah) yang akan membeli sepeda motor tersebut akan datang ke pihak dealer (penyedia sepeda motor) dan memilih sepeda motor mana yang akan ia beli. Kemudian, pembeli akan memberikan sejumlah uang sebagai uang muka sepeda motor yang ia beli. Dikarenakan hal tersebut pembeli harus melakukan perjanjian dengan pihak penyedia dana untuk mengisi sisa dana yang dibutuhkan untuk melunasi sepeda motor tersebut. Pihak bank harus memberi tahu harga asal dengan tambahan keuntungan yang nilainya disepakati kedua belah pihak.[12

 

]