Sahabat dan Cinta

Sahabat dan Cinta

Sahabat dan Cinta
Sahabat dan Cinta

Saat pertama kali bertemu, aku sudah terpesona dengannya.

Postur yang tinggi, kulitnya putih dan wajahnya yang tampan telah membuatku ingin mengenal jauh tentang dirinya.

Dia adik kelasku, namanya Bima. Saat itu aku hanya kagum kepadasnya tanpa memiliki perasaan apa pun kepadanya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik, meski aku tidak tahu bagaimana perasaannya  sendiri kepadaku.

Hari terus berjalan, semakin hari aku semakin dekat dengannya. Kami saling menyapa bila bertemu dan bila aku ke Perpustakaan dia juga ke sana. Saat aku sakit, dia terus menerus menanyakan kabarku pada Bahri,  adik sepupuku. Kebetulan mereka saling mengenal meski bukan berasal dari kelas yang sama.
Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ada perasaan aneh di hatiku. Hatiku bergetar saat bertemu dengannya. Hatiku damai saat melihat senyumnya. Dan mulai saat itu aku berpikir, “apa ini yang namanya CINTA?”

“Ke kantin yuk” ajak sahabatku Noni saat bel istirahat berbunyi.

“Ayo…, kebetulan aku lapar” sahutku sambil bernjak dari tempat duduk.
Di kantin sambil melahap bakso, Noni bertanya padaku. “Kamu kenal Bima yang dari kelas 2 IPA?” tanyanya.
“Iya, kenapa ?” tanyaku dengan heran kenapa tiba-tiba dia bertanya mengenai Bima.
“Dia temannya Bahri kan? Tolong ya tanyakan semuanya tentang Bima ke dia. Alamat rumah, telepon rumah, no hp, dan….” Belum selesai dia melanjutkan kata-katanya, aku langsung tersedak.
“Pelan-pelan kalau makan” ujar Noni sambil mengusap pungungku.
Aku langsung tersenyum padanya. “Hayo !!! Kamu suka ya sama Bima?” ledekku.
Noni memang sahabatku, tapi aku tidak pernah cerita padanya kalau aku juga suka sama Bima. Aku juga belum pernah cerita padanya kalau Bima sering sms-an denganku.
Dia sangat senang sekali ketika aku berjanji untuk membantunya supaya bisa kenal lebih dekat dengan Bima. Aku ingat ketika aku susah dia selalu membantuku maka sekarang giliranku untuk membantunya.
Kukenalkan Noni dengan Bima, kuberi nomor hp-nya. Mereka pun mulai berhubungan dan aku sangat senang sekali karena kini mereka mulai akrab. Mendengar dan melihat sahabatku gembira maka aku juga ikut gembira.
***
Selama KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung, Noni tampak murung. Terlihat dari wajahnya dia tidak konsentrasi pada pelajaran. Aku biarkan dia seperti itu sampai proses KBM selesai.

“Kamu kenapa Non ?” tanyaku dengan penasaran.

“Aku lagi marah sama kamu dan Bima”, jawab Noni dengan berjalan keluar kelas.
“Marah sama aku dan Bima? Masalahnya apa?”, tanyaku sambil membuntuti Noni yang melangkah ketempat duduk di depan kelas.
“Rupanya aku hanya di buat jembatan antara kamu dan Bima, pantas saja kamu dengan senang hati memperkenalkan Bima padaku” kata Noni dengan nada marah.
“Jembatan, jembatan apa? Bima mengatakan apa sama kamu, aku tidak mengerti maksudmu Non”, tanyaku dengan heran.
“Sudahlah tidak usah munafik, kamu bilang hubunganmu dengan Bima hanya sebatas adik dan kakak. Tapi……” Dia terhenti dengan kata-katanya. Air matanya pun menetes dan membuatku tambah bingung.
“Tapi apa?” aku tidak sabar ingin tahu permasalahannya.
Dia menyodorkan hpnya padaku. “Baca, ini sms dia kemarin…!!”

Aku menyukainya, aku sangat menyayanginya.  Aku ingin hubunganku dengannya lebih dari sekedar kakak adik. Kamu mau kan bantu aku. Dan satu lagi, aku minta fotonya.Terima kasih ya teman.

“Kamu tega mempermainkan perasaanku, kamu tega mempermalukanku di depan Bima. Kamu bukan sahabatku lagi. Seorang sahabat tidak akan menyakiti sahabatnya sendiri”, Kata Noni sambil berlari masuk ke dalamn kelas.
Aku hanya diam membisu mendengar perkataan Noni itu. Sebetulnya aku tidak peduli Noni marah-marah padaku. Yang ada dipikirannku hanya Bima. Sejuta tanya di hatiku, apa dia juga merasakan apa yang aku rasakan?
“Haii…”, sapa Ana dan Wati tiba-tiba saat keluar dari kelas.
“Kenapa Ning, Kok Noni sepertinya habis nangis. Kalian bertengkar ya? Sampai-sampai Noni jadi seperti itu?” tanya Wati padaku.
“Tidak Wat, cuma salah paham. Sudahlah ayo kita masuk bel sudah berbunyi” aku menggandeng tangan Wati dan Ana memasuki kelas.
Aku hanya diam dan melamun saja. Saat itu aku benar-benar tidak menyangka akan jadi sepeti ini. Jadi saat itu kubiarkan kemarahan Noni tertumpah padaku dan juga tuduhan-tuduhannya itu, walaupun hatiku sakit mendengar kata-katanya itu.
Setelah bel berbunyi tanda istirahat tiba, saat itu juga aku mencari Bima di Perpustakaan untuk mengetahui kebenaran dari semua yang telah terjadi. Ternyata benar, Bima ada di sana. Aku lalu menghampirinya yang sedang duduk dipojok ruangan.
“Bima, kamu sms apa sama Noni, kenapa dia sampai begitu marah padaku?” tanyaku mengagetkannya.
“Eh…. kamu Ning, duduk dulu nanti kuceritakan yang sebenarnya padamu”, jawab Bima dengan santai.
“Aku hanya minta tolong padanya untuk memintakan fotomu, apa itu salah? Dan Noni juga tanya, apa sebenarnya perasaanku padamu. Ya… Aku jawab kalau sebenarnya aku menyukaimu tapi aku takut mengatakannya, takut kamu marah” jelas Bima panjang lebar.
Aku terkejut mendengar penjelasannya. Aku juga bingung, disatu sisi aku suka padanya tapi di sisi lain ada sahabatku yang juga mempunyai perasaan yang sama.
“Aduh Bima, kenapa ngomong begitu sama Noni”, tanyaku.
“Kenapa ?” Tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
“Tapi…, Noni menyukaimu, apa kamu nggak merasa sikapnya yang begitu perhatian sama kamu” ucapku.
Bima mendekatkan kursinya padaku, dan meraih tanganku yang tergeletak di atas meja. Sambil menatap mataku ia berucap perlahan. “Aku menganggap Noni hanya temen biasa, kalaupun dia memberi perhatian lebih sama aku karena dia menyukaiku, itu hak dia.
Aku tidak bisa merubah perasaanku padanya” Matanya masih tetap memandangku membuatku semakin salah tingkah. “Bim…, tapi aku ini kakakmu dan kita cuma teman”, kataku pada Bima sambil sesekali menatap matanya yang tajam.
“Kenapa ? kamu tidak suka sama aku. Apa ada perbedaan usia dalam cinta?” Tangannya menggenggam tanganku semakin erat dan tatapannya semakin tajam yang membuat hatiku berdebar. Aku bingung harus mengatakan apa padanya. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutku.
“Kalau kamu anggap aku salah dan kurang sopan telah mencintai kakak kelas. Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku dan membalas cintaku, tapi aku mohon jangan kamu paksa aku untuk menyukai sahabatmu. Karena aku tidak mengobral cintaku. Jangan sok jadi Pahlawan kalau hatimu sengsara. Aku tunggu jawabanmu segera”, Bima pergi meninggalkanku yang masih terdiam membisu.
Tidak terasa hari beranjak siang, bel berbunyi pertanda jam sekolah sudah usai. Ketika aku berjalan sampai di depan gerbang sekolah aku melihat Bima, dia tersenyum padaku. Akupun membalas senyumannya. Dalam perjalanan pulang aku tidak henti-hentinya memikirkan apa yang dikatakan Bima. Nampak ada suatu kemarahan yang tersirat dalam perkataanya, terbukti ia mengatakan bahwa dia tidak megobral cinta.
Sesampainya di rumah aku masih memikirkan bagaimana caranya untuk menyatukan Noni dengan Bima. Sedangkan belum kukatakan maksudku dia sudah mengunciku dengan kata-kata jangan jadi Pahlawan dan dia tidak mengobral cinta. Aku sangat bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin mengorbankan persabatanku dengan Noni hanya karena Bima. Jika aku menerima Bima jadi kekasihku, aku pasti akan kehilangan sahabatku. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Bima.
“Hallo.. Bimanya ada ?” tanyaku.
“Ada apa Ning, apa kamu sudah siap menjawabnya sekarang?” Ternyata dia sudah hafal dengan suaraku.
“Bim,kamu jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk menjalin hubungan denganku. Bukankah Noni juga sangat baik dan sangat perhatian padamu”, aku berharap Bima tidak marah dengan ucapanku.
“Sudahlah Ning, aku sudah tahu dan sangat mengerti maksudmu. Tidak usah basa-basi, katakan saja kamu menolakku karena kamu anggap aku tidak pantas denganmu, aku masih kecil. Tidak usah mencari alasan dengan menjodohkan aku dengan sahabatmu.”
Lalu tidak terdengar lagi suara Bima, dia sudah menutup telponnya. Baru kali ini dia marah padaku. Hatiku sakit. Aku sayang padanya, aku tidak ingin kehilangan dia tapi aku juga tidak ingin kehilangan sahabatku.
Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, kubiarkan air mataku terus menetes dan dengan perlahan kucoba memejamkan mata.
***
Pagipun kembali datang. Matahari mulai menampakkan wajah terangnya di bumi. Kembali aku seperti biasanya. Pergi ke Sekolah, dengan membawa kebimbangan hati. Dari jauh kulihat Noni, setelah aku hampir mendekatinya dia pindah tempat. Aku tahu dia memang sengaja menghindariku. Mungkin dia masih marah padaku. Sampai di depan pintu kelas, Wati dan Ana menghadangku.
“Ningsih, sebentar aku mau bicara”, kata Wati seraya menarik tanganku agar duduk di sebelahnya.
“Ada apa, serius amat kalian ini?” tanyaku, aku berusaha bersikap tenang pada mereka.
“Sebentar Wat, kita ucapkan selamat dulu pada teman kita ini”, kata Ana dengan senyum-senyum.
“Selamat…. Untuk hal apa?”, tanyaku sedikit heran.
“Oh… iya, Selamat ya… Kamu sudah jadian sama anak kelas satu yang cakep itu. Tapi kamu jahat, kamu nggak pernah cerita sama kita, takut cowoknya diambil sama kita yah…?,” ledek Wati.
“Jadian sama Bim ?” aku semakin tidak mengerti maksud mereka.

Baca Juga :