Obyektivitas Dalam Antropologi

Obyektivitas Dalam Antropologi

Obyektivitas Dalam Antropologi
Obyektivitas Dalam Antropologi

Masalah lama dalam ilmu-ilmu sosial

yang belum juga terpecahkan sampai sekarang adalah mengenai kesenjangan si peneliti. Sebab, bagaimana mungkin bisa diharapkan tercapainya ilmu pengetahuan yang obyektif mengenai fenomen sosio kultural bila praktisi ilmu sosial adalah sekaligus sebagai ideologinya? Barangkali soal inilah yang paling sulit dan menjadi kendala, terutama dalam antropologi, karena dalam cara pengumpulan data dasarnya yang rumit dalam persoalan itu.

Secara tradisional menurut David Kaplan dan Albert A. Manners

antropologi berkecimpung selama satu tahun atau lebih dalam kancah suatu budaya yang eksotik yang dipelajarinya, mengamati lembaga-lembaga, pranata, dan cara hidup (Kaplan dan Manners, 1999: 32). Selanjutnya Kaplan dan Manners mengemukakan;

 Kemudian antropolog tersebut pulang dan menulis laporan mengenai “Cara hidup Suku…” Akan tetapi, seberapa jauhkah catatan itu merupakan pantulan bias pribadi si antropolog itu sendiri, rasa suka dan tidak sukanya sendiri? Masalah ini berulang kali disadari dengan penuh keprihatinan oleh para antropolog. Mungkin kasusnya yang klasik ialah Tepoztlan, suatu dusun di Meksiko Selatan. Etnografi awal mengenai Tepoztlan disusun oleh Robert Redfield pada akhir tahun 1920-an. Gambaran yang muncul dari catatan tersebut ialah suatu komunitas yang harmonis, egaliter, tentram dan damai. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-jaringan-tumbuhan-dan-fungsinya/)

Hal ini berbeda dengan laporan Oscar Lewis

yang sama-sama mempelajari Tepoztlan kira-kira 20 tahun setelah Redfield, yang mengemukakan: “… masyarakat Tepoztlan sebagai komunitas yang ditandai dengan perbedaan tajam dalam hal kekayaan dan tercabik-cabik oleh konflik antar pribadi yang tinggi”. Dapatlah dikatakan bahwa perbedaan kedua antropolog itu dapat minimal terdapat dua kemungkinan. Pertama, terjadi karena memang adanya perubahan selama kurun waktu 20 tahun. Jika memang hanya karena perubahan selama 20 tahun, barangkali tidak mengancam obyektivitas antropologi. Kemungkinan kedua, mereka memperoleh hasil yang berbeda karena ditentukan oleh; bagaimana cara mereka memperoleh laporan, di mana kepentingan pribadi, kelompok atau golongan, agama, ideologi, ikut serta mempengaruhi penelitian “baik” dan “buruk” terhadap suatu yang dikajinya. Untuk itu menurut Kaplan dan Manners (1999: 32) semua ilmu sosial dan bukan hanya antropologi mengalami bias. Keliru jika kita bermaksud mendapatkan obyektivitas dalam pemikiran dan sikap antropolog selaku individu. Bukan di sana kita haru mencarinya, melainkan seperti yang ditulis oleh Karl Popper, obyektivitas harus dicari dalam institusi dan tradisi kritik sesuatu disiplin (Popper, 1964: 155-159). Hanya lewat saling memberi dan menerima kritik yang terbuka serta melalui saling pengaruh antara bermacam-macam bias kita bisa berharap akan munculnya suatu yang mendekati obyektivitas. Dengan kata lain obyektivitas hakiki sesuatu disiplin ilmu diupayakan dan ditingkatkan secara kumulatif dari masa ke masa. Catatan Redfield dan Lewis telah merangsang suatu pertukaran kritik dan ulasan yang didasarkan pada perbandingan antara kedua catatan itu dengan catatan-catatan mengenai komunitas petani lain, khususnya di Meksiko (Lewis, 1961: 174-184). Dari sinilah penulis yakin telah dihasilkan potret yang mendekati obyektivitas mengenai kehidupan petani.
Kalau semua orang termasuk antropolog memandang dunia melalui layar penyaring yang terbentuk dari nilai-nilai bias (tidak obyektif) dari sudut padang individual, apakah ilmu-ilmu sosial lainnya juga bebas nilai? Cukup banyak ilmuwan sosial yang memang menyangkaol adanya kemungkinan tersebut. Sebab semua pengetahuan mengenai fenomen sosiokultural niscaya memantulkan kesenjangan (bias ataupun subyektif) perseorangan. Maka pencarian obyektivitas dan netralis adalah angan-angan belaka yang tidak pernah terlaksana.
Salah satu kelemahan pendapat semacam ini, sebagai mana penulis telah kemukakan bahwa kaum antropolog berusaha menempatkan obyektivitas itu dalam pemikiran dan sikap para peneliti. Padahal, tempat yang lebih layak untuk mencari dan menemukan obyektivitas adalah dalam tradisi kritik suatu disiplin. Sikap relativistik macam macam itu masih mempunyai kelemahan lain; di sana tidak dibedakan antara apa yang oleh filsuf ilmu disebut sebagai konteks penemuan dalam konteks justifikasi (Kaplan dan Manners, 1999: 33). Kesenjangan dan nilai individual memainkan peran dalam konteks penemuan, namun keduanya tidak serta merta, dan memang tidak boleh, memainkan peran penting dalam konteks justifikasi. Seperti yang Kaplan (1968: 232) kemukakan;

 … Sementara pertanyaan tentang sumber atau suatu pengetahuan ilmiah dapat menjelaskan motivasi seorang ilmuwan dalam menyatakan gagasan tertentu, pertanyaan itu tidak memiliki relevansi logis dengan suatu penilaian kritis tentang validitas gagasan itu.

Selanjutnya Kaplan

mengemukakan lebih lanjut; sepeti beberapa kritikus tergoda untuk mengesampingkan rumusan Marx dengan alasan karena Marx seorang Yahudi dan kudisan. Alasan semacam itu jelas merupakan sesuatu yang tidak logis dan perlu diabaikan. Sebaliknya gagasan dan teori-teori Marx akan tetap berdiri tegak maupun runtuh sesuai dengan kandungan kemampuan logis dan kebenaran gagasan keilmuan itu sendiri. Apapun yang menjadi sumber gagasan atau teori seseorang, jika kita tidak mau mengakui bahwa ada standar yang bersifat non-personal untuk menilai bukti dan argumentasinya, maka antropologi dan mungkin seluruh ilmu sosial akan menjadi tidak lebih dari himpunan ideologi belaka (Kaplan dan Manners, 1999: 34).